Ibu Rumah Tangga ; Antara Kebanggaan dan Cemoohan

Ketika merasakannya tertidur pulas di pundakku Ketika memperhatikan wajah polosnya yang nyenyak Ketika menemaninya bermain Ketika mendengar candanya saat dimandikan Ketika membersihkannya dari kotoran Ketika menaruh suap demi suap makanan ke mulutnya Aku sangat bahagia…  Teramat sangat… Hingga ingin rasanya waktu berhenti sejenak… I am a mother, and I am proud when she needs me..I am the one who serves her…

2012-11-07-11-14-19_wm

-Baby Shofiyyah-

Begitulah yang selalu saya rasakan, saya bahagia sekali dan setiap hari semakin cinta padanya, putri kecil saya Shofiyyah. Semenjak dia lahir, saya selalu bersama-sama dengannya, hmm, kalau boleh dikatakan sih, semenjak saya mengandungnya. Satu-satunya waktu dia berpisah dengan saya adalah ketika beberapa hari saja setelah dilahirkan dia harus dirawat di rumah sakit karena kuning, hanya 2 hari saja. Tapi rasanya sudah kangen sekali, karena tidak bisa setiap saat melihatnya😦

Dari awal, saya sudah berkomitmen untuk merawat dan mendidik anak saya semampu saya, sendiri. Dengan kata lain, ibu rumah tangga. Konsekuensinya, jelas saya tidak akan kerja kantoran lagi. Awal-awal memang terasa canggung. Saya sempat kerja di salah satu perusahaan telco yang cukup bagus, gaji pun lumayan. Kemudian, untuk keputusan rumah tangga ini, saya putuskan resign. Atasan saya bingung dengan alasan saya, yang sudah saya sampaikan dengan jujur. Kuliah di salah satu PTN favorit (dan cita-cita saya waktu SMA) hingga sarjana, membuat beberapa orang juga menyayangkan keputusan saya ini. Padahal, ini hidup saya ya, kenapa mereka yang pusing.. ‘Kenapa capek-capek kuliah kalo ga kerja?’ Lalu, ‘Yaah, sayang ya udah sarjana, tapi.. Bla bla bla.. ‘ Dan kalimat-kalimat sejenisnya. Tapi, bagaimana bisa sama jika berbeda? Maksud saya, seorang ibu yang mengenyam pendidikan, tentu akan berbeda dengan yang tidak. Saya yakin ibu-ibu yang berpendidikan bisa mendidik anaknya lebih baik, pintar, dan terarah. Jadi, tidak ada yang sia-sia.

Well, setiap orang punya pilihan. Bagi saya, ini yang terbaik. Kenapa saya tidak memilih jadi ibu kantoran, karena banyak hal yang patut dipertimbangkan. Contohnya hal di atas, ibu rumahan tentu akan bisa melakukan banyak hal untuk anaknya, seperti memandikannya, menyuapinya, menemani bermain, membersihkan anak dari kotoran, menyusuinya langsung, dan masih banyak lagi. Yang pasti, kegiatan rutin ini dapat menguatkan ikatan/bonding antara ibu dan anak. Ibu yang bekerja di luar rumah tentu akan melewatkan kegiatan-kegiatan penuh cinta bersama si kecil ini. Memang benar, kita tetap bisa cari duit, urusan rumah tangga dan anak bisa dititipkan pada orang tua atau pada pembantu sekalian. Anak bisa kembali kita temui dan bermain dengannya sepulang atau sebelum berangkat kantor. Tapi, bukan uang yang saya cari. Bukankah ayah sudah mencari nafkah untuk keluarga, lalu kenapa sang ibu ikut-ikutan dengan anak sebagai taruhannya. Sungguh kebersamaan seorang ibu dan anak itu mahal harganya. Sungguh tidak ada artinya uang bila saya harus merepotkan orang tua di usianya yang sudah tua, bila saya tidak bisa menyusui anak saya langsung, dan bila anak saya diurusi oleh pembantu. Kenapa harus orang lain? Padahal dia anak saya sendiri. Bukankah itu bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kita untuk menjaga dan mengurusinya? Suami istri sudah berkomitmen menikah, kemudian punya anak, ya anak sendiri kenapa kemudian diurus orang lain. Selain itu, saya tidak ingin melewatkan moment berharga setiap tumbuh kembangnya. Dia membalikkan badan, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan, apakah pembantu harus lebih dahulu tau daripada saya? Saya tidak mau. Sayang sekali jika itu terlewatkan, karena setiap melihat yang pertama kali, rasanya luar biasa..saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata. Seperti halnya dulu pertama kali saya menyaksikan dia bisa berdiri sendiri..hmmm🙂 Dan setiap dia membutuhkan kita, menurut saya itu adalah hal terindah bagi seorang ibu, dia tidak mau orang lain siapapun selain kita, isn’t that sweet..

Dan anak, dalam agama Islam, merupakan aset paling berharga, karena anak yang shalih dapat menjadi amalan baik yang tak terputus bahkan hingga kita sudah tidak bernyawa lagi.. Anak yang shalih pahalanya terus mengalir bagi kedua orang tuanya dan dapat meringankan beban kita di alam kubur kelak (aamiin ya Allah). Itu adalah motivasi terbesar seharusnya yang dimiliki setiap orang tua kenapa anaknya harus dia yang merawat dan mendidik. Kerja keras dan peluh kita dalam membesarkan dan mendidiknya akan berbuah manis kelak. Bagaimana kita akan mengharapkan orang lain untuk urusan besar ini? So, stop mocking on anyone who is a housewife and a devoted mother. When you raise a girl into a good woman, it’s not easy.

Maka, menurut saya, kembali untuk menyadari kodrat kita sebagai seorang wanita itu adalah yang utama. Kita yang mengurusi rumah tangga, suami, dan anak-anak kita. Jangan takut akan uang, uang bukan hanya dengan kerja di kantor. Insyaallah selalu ada jalannya jika kita mau berusaha, seorang ibu tetap bisa produktif meskipun selalu bersama anaknya di rumah. Berapa banyak ibu rumah tangga yang juga berhasil dalam usahanya asalkan tekun. Dan satu yang juga selalu menyemangati saya, bahwa anak kita tidak selamanya kecil🙂 Dia cepat sekali besar. Waktu dia membutuhkan kita untuk makan, mandi, ganti baju, dsb hanya sebentar saja, karena waktu berjalan sangat cepat. Kemudian hari-harinya mulai diisi dengan teman baru, aktivitas baru, dan dia mungkin mulai malu kalau kita memeluknya di depan orang lain. Kita, terutama seorang ibu, mungkin akan merindukan saat-saat dia masih kecil, saat-saat kita benar-benar disibukkan olehnya yang ternyata sangat sebentar🙂

stock-footage-mother-with-baby-walking-on-sea-coast-silhouettes-sunset

Terakhir, ini adalah kutipan kata-kata dari Ibu Ainun Habibie yang menurut saya sangat bagus, mudah dimengerti, dan langsung bikin semangat ibu-ibu ‘bergelar’ yang berhenti kerja seperti saya, hehe..

“Mengapa saya tidak bekerja?

Bukankah saya dokter? Memang.

Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu.

Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri ? Anak saya akan tidak memiliki ibu.

Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Bertahun- tahun kami bertiga hidup begitu.”

Jangan biarkan Anak² mu hanya bersama pengasuh mereka.

Bagaimana bila dibantu pengasuhan dengan kakek neneknya? ~ Sudah cukup rasanya membebani orangtua dengan mengurus kita sejak lahir sampai berumah tangga. Kapan lagi kita mau memberikan kesempatan kepada orangtua untuk penuh beribadah sepanjang waktu di hari tuanya. Mudah2an ini bisa jadi penyemangat dan jawaban utk ibu-ibu berijazah yang rela berkorban demi keluarga & anak2nya. Karena ingin Rumah Tangganya tetap terjaga & anak2 bisa tumbuh dgn penuh perhatian, tdk hanya dalam hal akademik, tp jg utk mendidik agamanya, karena itulah sejatinya peran orangtua. Belajar dari kesuksesan orang2 hebat, selalu ada pengorbanan dari orang2 yang berada dibelakangnya, yang mungkin namanya tidak pernah tertulis dalam sejarah. Berbanggalah Engkau sang Ibu Rumah Tangga, karena itulah pekerjaan seorang wanita yg paling mulia…”

Dan, saya bangga jadi ibu rumah tangga ^^


9 thoughts on “Ibu Rumah Tangga ; Antara Kebanggaan dan Cemoohan

  1. well said!!!!
    i’m also a stay-at-home-mom, and i never regret it. it’s so true that money can’t buy our children!❤

  2. Seneng ada yg merasakan apa yg saya rasakan
    Kl orang lain yg mencemooh saya msh cuek tp saat orangtua yg mengeluh “sdh capek2 dkuliahin malah cuma jd ibu rumah tangga” dan melihat kekecewaan dmata mereka serasa jd anak yg tdk bbakti
    sedih n g enak bangetz…

  3. boleh share ya bun.. same as me ^^ semoga orang tua saya memahami, jikalau ilmu telah sampai pada mereka, insha`allah mereka akan mendukung keputusan ibu2 rumah tangga. Namun, Allah sedang mengajari hambaNya untuk kuat dan bersabar dengan takdir2 yang yang telah ditetapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s