Bisa Karena Biasa

Beberapa hari belakangan, saya agak keranjingan bikin sarapan pancake. Tinggal bikin adonan, masak, dan santap. Nyam nyam, bahkan Shofi juga suka. Tapi, kalau dilihat-lihat kembali, tidak semudah itu juga. Pertama kali membuatnya, saya butuh waktu cukup lama untuk menakar-nakar, mengolah, dan menjadikannya pancake yang pas. Semakin lama semakin cepat. Benarlah kata pepatah, “bisa karena biasa.” Dan masih banyak pengalaman lain yang meyakinkan saya bahwa pepatah ini memang benar. Termasuk berkutat kuliah di fakultas teknik yang tidak saya sukai pelajarannya, yang membuat saya kadang-kadang desperate menjalani kuliah, secara saya pengen jadi dokter (ga nyambung kan..) Tapi alhamdulillah lewat juga, fiuhh..

Dulu, sebelum menikah, saya sempat khawatir. Sudah semakin dekat waktunya, tapi saya belum juga bisa memasak. Yah, sebenarnya saya sudah mulai bisa memasak sayur, kalo itu boleh dihitung. Tapi, yang jelas itu masih jauh dari pandai memasak. Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan pandai memasak ini, bagi saya secara pribadi, karena saya dari kecil tomboy sekali dan tidak mengindahkan panggilan mama di dapur😀. Saya lebih enjoy berbenah mobil sama papa ketimbang masak sama mama di dapur. Sehingga bisa dikatakan saya tidak punya ketertarikan masak, meskipun mama saya pandai memasak. Belakangan sebelum nikah saya mulai agak menyesali kenapa tidak dari dulu memaksa diri belajar masak, karena saya termasuk yang idealis inginnya saya yang memasak untuk suami dan anak-anak, akhirnya di sisa waktu lajang mulai ngebut belajar masak. Alhamdulillah sekarang sudah bisa masak enak dan lebih lancar, hehe..

Ada hal lain yang saya lihat dari pengalaman orang lain, saking sayangnya orang tua sama anak, ada yang tidak pernah mengajarkan anaknya tentang perjuangan hidup, bahkan untuk hal kecilpun anak jadi tidak mandiri. Sampai kapan kita mau menyusahkan orang tua kita, sampai dewasa pun belum bisa mengurus diri sendiri?? Ada lagi yang tidak pernah menegur kesalahan anak, atau mendiamkan saja kesalahan yang dilakukan anak, padahal yang benar itu harus diberitahu, dan yang salah katakan salah. Saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan tidak boleh mengatakan “tidak/jangan” kepada anak. Bahkan bahasa dalam Al-Quran saja menggunakan kata ‘jangan’ ketika ada suatu larangan, maka tegas itu diperlukan. Yang harus diperhatikan adalah cara penyampaiannya agar tetap santun.

So, dari sini, saya bisa ambil kesimpulan, pendidikan pertama bagi anak adalah orangtua dan rumahnya. Orangtua punya peranan sangat besar dalam menentukan kemandirian & kepribadian anaknya. Selanjutnya, ketika anak mulai dewasa, lingkungan dan kepribadiannya menentukan sekeras apa dia ingin belajar. Bila keduanya gagal, maka gagal lah dia menaklukan kesulitan hidup. The end. Padahal, kalau mau berusaha, pasti bisa.

Dan sekarang sebagai orangtua, saya akan berusaha mendidik anak saya sebaik mungkin. Saya punya tanggung jawab  menanamkan agama kepadanya, membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam dirinya dan membuang jauh-jauh kebiasaan buruknya. Bukanlah sayang itu dengan selalu memanjakannya, tetapi juga dengan mengajarkannya hal-hal berguna yang membantunya menaklukkan hidupnya nanti ke depan. Seperti mencuci pakaian, memasak, how to deal with anyone, dll. Sepele ya? Absolutely not.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s