Jadi Ibu yang Lebih Baik

Waktu terbaik bagi seorang ibu untuk me-review diri adalah ketika anaknya tidur. At least, buat saya begitu. Setiap memandangi anak yang sudah tertidur, melihat mukanya yang polos dan damai, hati langsung luluh. Seketika muncul perasaan sayang yang bertubi-tubi, ingin membelai dan menciumnya. Ikut berbaring di sebelahnya menciumi baunya. Nikmat sekali.

Pada saat yang sama, dengan perasaan yang sebaliknya, dada terasa sesak dan ada banyak sesal yang menjejali hati ini. Mengapa hari ini belum baik mengasuhnya, mengapa tadi tidak bisa menahan marah padanya, mengapa tadi tidak bisa sebentar saja mengambilkan minumnya, mengapa tadi tidak bisa berkompromi sedikit ketika dia minta bermain lebih lama ketika mandi, mengapa tadi tidak sempat mengajaknya bermain ke taman, mengapa tidak bisa fokus ketika dia mengajak bermain bersamanya tapi fokus ketika sedang menatap hp, mengapa tidak bisa sabar menyuapi makannya yang lama dan menyikat giginya yang selalu sambil ngobrol, mengapa gemas kalau dia berlari-lari ke ujung ruangan saat saya akan memakaikan celananya dan terpaksa mengejar2nya…dan masih banyak hal lain yang membuat saya malu menuliskannya kalau saya utarakan semua. Setiap hari selalu saja ada sesal. Padahal waktu-waktu ini tidak lama, sebentar lagi dia akan beranjak besar dan mandiri. Mungkin dia tidak akan butuh saya lagi ketika itu. Dan air mata ini menetes sedih tanpa sadar.

Di tengah kesibukan melakukan tugas-tugas di rumah, memang harus berpacu dengan waktu. Ada hal-hal yang harus saya kebut, terkadang membuat waktu yang dia butuhkan saya cut atau bahkan saya lupa, bahwa itu haknya, dia membutuhkan waktu-waktu tersebut. Terlebih bila kondisi badan sedang sangat lelah atau sangat lapar, 2 hal ini yang paling signifikan membuat saya gampang emosi terutama kalau dia sedang bertingkah. Hhhh…padahal dia kan anak-anak, memang begitulah adanya. Tapi, memang begitulah juga keadaannya, kadang tidak sempat makan atau telat makan karena mengurusi urusan rumah dan anak, ternyata perut sudah lapar berat. Atau begadang malam karena adeknya yang masih bayi, membuat kurang tidur dan cepat lelah. Ternyata, di saat-saat genting melanda, hal ini berimbas jelek pada emosi jiwa . Ahh, selalu saja ada alasan…

I’m sorry. Really very sorry, my dearest daughter. Tiap menatap wajahnya, selalu berharap dan berjanji besok saya akan jadi lebih baik lagi. Walaupun selalu pula masih ada cela, setiap hari saya berharap lebih baik. Dan itu membuat saya merasa lebih tenang daripada tidak berusaha sama sekali.  I’m just ordinary. And I’m just human. Maybe I’m not a perfect mother, but I try to be good one, and I hope she sees me as her everything, just the way I am. Semoga Allah menganugerahkan kepadaku kesabaran yang banyak dan kekuatan untuk jadi ibu, pengurus rumah dan anak yang lebih baik setiap harinya..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s