Pengalaman Menyapih Shofi; Tips Weaning with Love

Well, sebenarnya ini adalah bener-bener late post, secara anaknya udah 3tahun, dah punya adik lagi, haha.. Inilah akibat menunda-nunda menulis, jadi menguap deh idenya, alias lupaa. Padahal dulu udah pernah niat nih mau cerita tentang pengalaman menyapih Shofi. Baru sekarang abis lahiran Sarah, karena menyusui bayi lagi jadi teringat kembali. 

 

Jauh sebelum Shofi disapih, saya sudah janji pada diri sendiri suatu saat jika dia disapih, saya akan melakukannya dengan jujur dan terbuka. Dan ternyata memang begitulah sebaiknya. Belakangan, saya baru tau kalau ini namanya weaning with love.

 

Banyak ibu yang menyapih anaknya dengan cara yang menurut saya…sayang sekali melakukannya. Seperti menakut-nakuti dengan mengoles lipstik merah di PD ibu (pura-puranya berdarah), katanya ibu lagi sakit, si anak disuruh mengasihani ibunya jadi tidak usah menyusu lagi, padahal ibunya berbohong padanya. Ada lagi dioles minyak, rasa-rasa asam apa ya saya gak inget dari apa, yang intinya supaya anak kapok menyusui dan akhirnya tersapih. Serta kata-kata bohong lainnya. Sayang sekali. Padahal selama ini anak begitu erat dan tergantung pada ibu karena dia diberi asi oleh ibunya. Saya ingat sekali tatapan Shofi ketika minta dan sedang menyusu, raut wajahnya bahagia banget, kadang dia jejingkrakan sedikit sebelum posisi menyusui haha..like it’s what she reaaally loves to do. Bahkan sampai ketiduran. Dan aktivitas menyusui yang sangat dia cintai selama 2 tahun di kehidupan awalnya ini harus kita hentikan. Rasanya kok tidak tega melukai perasaannya dengan membohongi dan menjelek-jelekkan aktivitas kesayangannya itu. Pastilah dia merasa berat dan sedih, kalau di film layaknya bad ending. Maka, saya berpikir jujur dan membesarkan hatinya lebih baik daripada membohongi atau membodoh-bodohinya. Setidaknya meskipun dia akan sedih sesaat, tetapi kenangannya ketika dia masih menyusui tetap menjadi hal indah buatnya, tidak sebaliknya. Malah saya berharap dia bisa jadi lebih pintar menghandle emosi.

 

Oke, ini tips simple bagaimana saya menyapih Shofi.

1. Beri pengertian bahwa dia akan berhenti menyusui. Hal ini dilakukan jauh hari sebelum disapih ya, supaya dia bisa mempersiapkan diri dan tidak kaget. Untuk Shofi, sudah saya kasi pengertian sejak 20m (dengan ekspektasi tepat 24m disapih). Jadi, semenjak 4bulan sebelumnya itu, saya mulai sering ngobrol dengan dia, tidak ada paksaan. “Kakak, nanti kalo sudah besar, kakak gak micu-micu (red: menyusui) lagi yaa..” Kalau dia tanya kenapa, saya jawab, “Iya..soalnya anak besar gak micu-micu lagi. Anak besar minum susu dari gelas, minum jus, minum air putih, minum lain-lain.. Yang micu masih anak kecil, anak bayi.. Okee”. Pertama-tama dia gak mau, enggan menjawab tawaran saya. Tapi, karena terus diulang-ulang, terus dikasi motivasi, dia mulai paham dan tertarik untuk jadi anak yang lebih “besar”. Mendekati waktu menyapih, dia sudah bisa bilang sendiri bahwa nanti dia kalau sudah besar gak akan micu dan minum dari gelas. Wah, senang sekali mendengarnya. Membuat saya tenang dan mantap mengeksekusinya🙂 Walaupun sejujurnya, menyapih bukan hanya emotional journey buat sang anak, tapi juga ibunya. Selain lega dan bahagia, sedih juga lho ketika anak akhirnya berhasil berhenti menyusui dari kita. Hiks..

 

2. Mengurangi frekuensi menyusui secara bertahap. Nah, ini penting nih. Biasanya anak menjelang 2 tahun menyusui hanya 1 atau 2 kali sehari. Shofi dulu masih menyusui sekali siang dan malam menjelang tidur. Pertama-tama, yang siang saya hilangkan. Tidak terlalu sulit sih. Bisa kita bujuk dengan snack pengganti, dan yang paling penting adalah point nomor 1 di atas. Dengan pengertian selama ini, sekarang saatnya beraksi. Makanya jangan bosan mengingatkan dia agar bisa. Alhamdulillah dia mau mencoba, sambil terus dikasi motivasi. “Kakak sudah besar kan, sebentar lagi 2 tahun, micu nya dikurangi ya.. Nanti lama-lama gak micu lagi, nanti minumnya semua pake gelas..” Dan terakhir, menyusui malam yang dihilangkan. Ini agak lebih susah, karena menjelang tidur malam dia lebih bermanja-manja. Tapi, no big problem sih. Yang penting bisa negotiate sama anak dan membujuknya. Pengurangan frekuensi menyusui ini saya lakukan 2 minggu menjelang 2 tahun.

 

3. Beri hadiah. Namanya juga anak-anak, mereka senang diberi hadiah (lha..yang gede juga kaan). Hadiah ini selain menyemangatinya agar berhasil, juga sebagai penawar sedih. Shofi dulu saya belikan piring makan dan gelas baru, tanda anak besar supaya pintar makan sendiri. Juga saya ajak ke playground kesukaannya untuk mood booster (asli sedih banget dia berpisah sama micunya..)

 

4. Terakhir, jangan dipaksa. Tiap anak berbeda, ada yang lebih cepat memahami ada juga yang sulit. Lakukan perlahan. Kalau dia sampai nangis meronta-ronta atau rewel banget, mungkin dia belum terlalu siap. Sambil berikan pengertian terus, dia akan paham dan siap mencoba.

 

Alhamdulillah Shofi berhasil disapih pas 2 tahun. Dia terlihat sangat menerima meskipun sangat sedih. Seminggu pasca penyapihan, Shofi sangat murung, gak bersemangat, dan banyak bermenung, like she’s lost something she loves the most. Saya sampai agak khawatir. Kalau lagi makan biasanya sambil mengoceh atau nyambi ngerjain sesuatu atau main, ini diem aja sambil duduk mengunyah. Gak minat nyentuh apa-apa. Trus kalau lagi pake celana biasanya gak bisa diem, sambil becandain saya atau perlu kejar-kejaran, waktu itu langsung pake celana tanpa halangan. Kasian saya melihatnya.

 

img-20131030-01665_wm(1) 

Yang jelas, dia tidak sedang sakit. Saya menduga ini efek secara emosional yang terlihat karena berpisah dengan kecintaannya. Tapi alhamdulillah, setelah minggu kedua, dia lebih bersemangat, terutama setelah diajak main sepuasnya di Lollipop playground. Hmm, saya pun sebenarnya juga merasa sedih, berakhir perjuangan memberi ASI dan akan merindukan masa-masa dia gelendotan (aduh bahasanya..), bercanda, dan tatapannya sewaktu menyusuinya.

 

Btw, saya bangga sekali kami bisa melalui ini dengan baik. 2 minggu pertama setelah penyapihan adalah masa “kritis”. Tapi justru dengan weaning with love, dengan jujur no tipu-tipu, kita melatihnya bernegosiasi, memahami, juga menerima keadaan yang sulit atau tidak disukai. Karena hidup itu ada manis ada pahitnya (yailaaah..berat banget). Tapi, memang begitulah adanya, pelajaran ini bisa menjadi latihan mematangkan emosinya.

 

Selamat jadi anak besar Kak Shofiii, semoga semakin pintar dan sehat selalu🙂


7 thoughts on “Pengalaman Menyapih Shofi; Tips Weaning with Love

      1. Haha.. Aq pengen nulis cerita lahiran Sarah (dah ada sih), tp nanti kw takut pulak lahiran😀 cemna menurut kw..hoho. Eh sarah dah bs tengkurep lhoo..keburu besar dy kw gak dtg2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s