Pengalaman Melahirkan Normal; Bagaimana Melahirkan Normal?

Ketika hamil Shofi si sulung saya, layaknya menyambut anak pertama kebanyakan, semua persiapan sudah disediakan sebaik mungkin, tinggal menunggu si kecil pulang ke rumah. Selain itu, saya juga rajin jalan dan kegel agar proses persalinannya mudah. Dan saya sangat mengharapkan kelahiran bayi saya secara normal, saya berusaha demikian. Tapi, alangkah terkejutnya saya ketika menyadari saya terlambat sekali, saya tidak cari tahu cara-cara melahirkan! Hal ini baru saya sadari ketika di ruang bersalin, sudah masuk bukaan 8, tiba-tiba terpikir, nanti mengejannya gimana ya?? Well, saya tau ngeden or mengejan, tapi saya khawatir prakteknya tidak tepat atau salah timing. Akhirnya saat itu saya hanya berharap dokter saya bisa membantu menginstruksi dengan jelas. Sayang sekali ternyata tidak demikian. Dokter hanya bilang, “Yak Bu, sekarang ngeden!!” Tapi, tetap gagal sampe 3x, sudah menahan sakit luar biasa. Dan dokternya hanya mengulangi kalimat tadi tanpa memberi sedikit penjelasan, padahal dia tau ini anak pertama saya, I might be blank and lack of experience. Dan saya sudah cukup lelah, menanti bukaan ini hingga lengkap saja saya sudah merasakan sakit lebih dari sehari (8 jam cuma nambah 1 bukaan, really). Ternyata, posisi bayinya juga tidak begitu bagus, kurang menukik pas di jalan lahir, katanya sih karena itu juga ngedennya jadi tidak ngefek. Entahlah. Akhirnya dibantu vacuum. Saya masih bisa mendengar waktu dokter minta persetujuan suami saya, “Kita usahakan vacuum dulu, mudah-mudahan bisa. Kalau tidak, terpaksa caesar.” Haduw, jangan sampai operasi, saya akan usahakan lagi, batin saya. Alhamdulillah, dengan vacuum, dibantu sekitar 4 atau 5 orang (lupa) mendorong bayinya (perut saya), dengan 2 kali ngeden, Shofi lahir.

Anak kedua, Sarah, saya lebih santai. Haha.. Jarang jalan, jarang senam, apalagi kegel. Sibuk ngurusin kakaknya soalnya. Dan lagi-lagi saya kok bisa ya kelupaan yang penting ini, saya lupa browsing pengalaman persalinan normal. Huft… Dan baru ingatnya juga di ruang bersalin, haha. Tapi, saya sedikit lebih optimis, karena sudah pernah mengalami. Beda dengan kakaknya yang jarak kontraksi dan melahirkan lebih dari 24 jam, Sarah hanya 2 jam setengah! Kontraksinya cepat banget kemajuannya. Bahkan nyampe di klinik itu sudah bukaan 8, bidan jaganya aja kaget. Buru-buru telpon dokter. Kali ini saya ganti dokter, sekarang dengan dr. Dewi Rumiris Sp.Og. Dokter Dewi nyampe pas banget sudah bukaan 10. Untungnya dokter ini lembut, keibuan, supportive, dan bagus mengarahkan apa yang harus kita lakukan. Tanpa saya minta, dengan ringkas, cepat, dan jelas, beliau memberi arahan cara melahirkan. Okay. Ngeden #1. Masih gagal, bayinya masuk lagi. Sebelum ngeden #2, saya minta tolong dokternya menjelaskan sekali lagi, karena tadi saya tidak terlalu fokus, mendengarkan sambil menahan sakit kontraksi. Beliau kembali menjelaskan seperti di awal dengan sabar, meski terlihat terburu-buru, karena kita memang harus cepat, sebelum kontraksinya kembali datang. Dan kontraksinya datang lagi. Ngeden #2, masih gagal, padahal sudah hampir berhasil, saya bisa merasakannya dan Dokter Dewi juga bilang begitu. Dokter Dewi bilang, “Harus bisa sekuat tenaga bu, kasian kan bayinya juga mau lahir..ibu mau lihat bayi ibu kan?” Saya mengangguk, bener, kasian Sarah kalau kelamaan. Akhirnya, di ngeden #3 baru berhasil, ngeden sekuat tenaga yang tersisa. MasyaAllah..alhamdulillah.

Setelah itu, masih harus ngeden untuk mengeluarkan bahunya (badannya), dan sekali lagi untuk mengeluarkan plasenta. Meski sakit, tapi tidak sesulit mengeluarkan kepala bayinya. Setelah itu, proses jahit menjahit, sakitnya ini lumayan, tapi sudah dengan satu kebahagiaan lain, memeluk bayi yang baru lahir yang dapat mengalihkan rasa sakit insyaAllah.

Sebenarnya saya sangat detail tentang proses ini, saya punya tulisan tersendiri. Tapi, saya pikir, saya tidak ingin proses melahirkan menjadi hal yang menakutkan untuk ibu-ibu yang membaca tulisan ini. Garis besarnya saja sudah cukup, yaitu kontraksi, melahirkan, dan dijahit. Salah satu yang membuat saya menunda-nunda browsing cara melahirkan waktu itu adalah karena saya khawatir menjadi takut ketika menjalaninya nanti. Yang memang pada akhirnya saya pun menjadi lupa. Tapi, takut dalam sebatas wajar tidaklah mengapa, karena..siapa sih yang tidak nervous akan menghadapi perjuangan hidup dan mati mengantarkan sebuah nyawa hadir ke dunia?

l

Takut berlebihan itulah yang sebaiknya dihindari. Ibu mertua pernah cerita, ada staff beliau di kantor, istrinya melahirkan caesar, setelah sehari apa 2 hari ya, anak bayinya meninggal๐Ÿ˜ฅ Sedih sekali mendengarnya, membayangkan jadi dia pun tidak sanggup, apalagi waktu itu habis lahiran Sarah, jadi feelnya masih dapet banget. Ternyata, sang istri ketakutan luar biasa jelang persalinan, jadi ketika prosesnya dia gak berani ngeden atau berusaha lebih keras karena terfokus sakit dan takut, padahal sudah pecah ketuban. Bayinya jadi terlalu lama menunggu, kemudian diputuskan di caesar saja. Tapi, karena memang sudah kelamaan dan bayi keracunan air ketuban, tidak lama akhirnya bayinya meninggal…

Okay move on, berikut ini cara melakukan persalinan normal yang saya simpulkan dari arahan dr. Dewi Rumiris Sp.Og, langsung saat bersalin hehe..
1. Atur napas. Tarik napas panjang-panjang lewat hidung, buang perlahan lewat mulut. Demikian lebih mengurangi rasa sakit. Jangan bernapas pendek-pendek seperti di sinetron -.- salah itu mah.
2. Posisi melahirkan. Dalam posisi tiduran, kaki ditekuk kiri kanan, buka lebar2, tangan memegang paha, kepala diangkat dengan menatap ke arah perut —> ketika kontraksi datang, ngeden!
3. Mata jangan ditutup ketika ngeden, stay opened! Jika tidak, dapat merusak syaraf mata.
4. Ngeden dari perut, bukan dari mulut atau leher. Yang satu ini agak susah kalau tidak dipraktekkan karena agak mirip. Cara membedakannya, kalau kita ngeden di leher, maka leher kita akan terasa keras seperti batu, perut juga keras tapi tidak sekeras leher. Kalau ngedennya tepat yaitu di perut, maka kita dapat merasakan perut kita mengeras berkontraksi, meskipun otot leher juga ikutan, tapi yang di perut lebih terasa. Layaknya orang sit up, perutnya kenceng. Karena itu posisi di point #2 di atas mirip orang sit up kan. Kalau masih susah juga, #maaf# bayangkan seperti akan BAB yang sangat keras, pasti kita menekan dari perut, bukan leher.

Nah itu 4 yang utama, berikut di bawah ini yang bisa saya tambahkan :

5. Berusaha relax dan tenang. Jangan panik.
6. Sebaiknya jangan berteriak, buang-buang energi. Hmm, tapi saya tidak sepenuhnya setuju. Saya setuju jangan berteriak sepanjang kontraksi (sebelum bukaan lengkap), terutama mendekati pembukaan 10 akan semakin sakit, mungkin rasanya ingin berteriak-teriak meluapkan rasa sakit. Itu tentu akan menghabiskan energi sia-sia, kita harus save energi untuk kekuatan saat mendorong bayi nanti. Tapi lain halnya bila mengeluarkan suara saat mengejan final, tinggal mendorong bayi saat bukaan sudah lengkap dan mengikuti aba-aba dokter, saya rasa malah membantu. Ya jangan terlalu berteriak berlebihan atau tidak terkontrol juga sih, tapi cukup untuk memacu adrenalin agar ngeden lebih kuat. Dulu saya suka nonton acara Sports Science (#bagus deh) yang mengupas teori-teori ilmiah di balik berbagai cabang olah raga. Salah satu episode yang pernah saya tonton adalah keterkaitan teriakan dengan performa atlet, saat itu mengambil cabang angkat berat. Ternyata teriakan mampu meningkatkan performa atlet angkat berat sehingga lebih kuat dan tahan lama, tenaga yang keluar menjadi maksimal. Ini kutipan ringkasnya :

โ€œIn episode seven of the FSN series, Sports Science, the show examines the idea that screaming affects performance, using martial artist Paul Pumphrey. Their conclusion is that it does. Physiologically, screaming releases a burst of adrenaline and causes a higher heart rate which increases blood flow to the limbs and organs. The lungs contract which forces oxygenated blood to the extremities. It also causes all of the core muscles to contract simultaneously. In addition, it provides a psychological boost.โ€

Nah, ini sama halnya seperti melahirkan, kita perlu energi maksimal, you gotta push real hard to get the baby out. Jadi, bila memang sudah tiba saatnya mengejan, tidak apalah sedikit berteriak. Sebelumnya, jangan berteriak-teriak ya, simpan tenaga. Saya juga merasakan perbedaannya. Saya waktu melahirkan tidak teriak2, hanya ssshhh shhhh sshhh aja. Tapi, di ngeden #3 waktu lahiran Sarah, yang setelah dokter ngomong saya harus lebih kuat, secara spontan saya kerahkan tenaga sambil berteriak agak lebih kencang, lebih plong memang rasanya, dan…yeay, berhasil.

7. Berdzikir, berdoa minta pertolongan dan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan beristighfar. Yang terakhir ini penting sekali agar kita selalu kuat melewati rasa sakit selama proses kelahiran, sehingga tidak mudah menyerah. Dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, hati kita lebih tenang, lebih santai, meskipun terasa sakit.

{ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู„ุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู}

โ€œOrang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteramโ€ (QS ar-Raโ€™du:28).

{ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑูู‡ู ูŠูุณู’ุฑุงู‹}

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (QS ath-Thalaaq 4)

Dan satu hal yang perlu diingat, di sepanjang proses yang kita merasakan sakit ini, bila kita meminta ampunanNya (istighfar), semoga bila Allah mengabulkannya maka dosa-dosa kita berguguran, alangkah indahnya.

โ€œTidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnyaโ€.
(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

โ€œTidak lah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannyaโ€. (HR. Bukhari no. 5641).

โ€œTidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanyaโ€. (HR. Muslim no. 2573).

Bila kontraksi datang, ingat-ingatlah bibir ini mengucap yang baik, berharap ampunan Allah. Buatlah lisan ini berguna di saat genting, daripada mengerang dan memaki-maki rasa sakit, tidak dapat apa-apa selain rasa sakit itu sendiri. Ada lho ibu yang akan melahirkan tipe begini, tiba-tiba membentak-bentak gak karuan, teriak-teriak menggerutu, seperti tetangga kamar saya di RS waktu lahiran Shofi. Dengernya aja serem…hiiiy..

Tidak dapat dipungkiri, melahirkan itu sakit dan membuat kita takut. Tapi, kita wanita ditakdirkan untuk melahirkan, artinya kita pasti bisa melaluinya. Harus yakin. Kalau dari awal tidak punya komitmen yang kuat dan keberanian ingin persalinan normal, saya yakin di tengah jalan kita gampang menyerah karena sakitnya, terutama anak pertama prosesnya biasanya lebih lama. Yang bisa saja berakhir dengan caesar. Alhamdulillah tidak pernah terlintas di pikiran saya ingin secepatnya mengakhiri rasa sakit dengan jalan caesar waktu melahirkan kedua anak-anak. Di sini saya tidak bermaksud menyudutkan ibu-ibu yang persalinan caesar, terlebih caesar yang memang harus dilakukan karena ada indikasi medis, maka memang begitulah jalannya. Saya hanya menilik sudut pandang kita yang menginginkan melahirkan normal, what to do and not to.

Hmmm, panjang juga jadinya cerita ini. Semoga sharing ini bermanfaat. Keep up the spirit buat calon-calon ibu๐Ÿ™‚


4 thoughts on “Pengalaman Melahirkan Normal; Bagaimana Melahirkan Normal?

  1. Halo Mba… Salam kenal.. Saya yama, saat ini usia kandungan 37 minggu. Anak pertama lahir sesar karena berat badan rendah dan saya hipertensi. Yang anak kedua ini kepengen sangat melahirkan normal, tadinya semangat banget, cuma kemarin waktu terakhir periksa kata dokter ketebalan rahim saya nge pas banget. Jadi agak jiper lagi nih… Ada tips gak Mba supaya semangat lagi ya

    1. Halo Mba Yama. Hmm, klo udah begitu kata dokter, sebaiknya kita ngikut aja, karena mereka lebih tau dan mmg ada ilmunya, apalagi mba punya riwayat hipertensi sebelumnya. Jarak anak pertama dan keduanya brp thn mba? Sy pernah baca ada yg pernah melahirkan anak kedua normal setelah anak pertama caesar, tapi jarak anaknya cukup jauh. Gpp mba, kalo mmg harus caesar karena alasan medis๐Ÿ™‚ tapi, kalo mba mau cari second opinion, coba datang ke dokter lain, cari tau dulu dokternya pro normal apa tidak, jadi jawabannya lbh bikin mba tenang, apakah benar-benar harus caesar apa masih bisa normal. Secepatnya, karena anak kedua biasanya lbh cepat lahirnya (skrg kan sdh week 37). Semoga sehat2 dan lancar ya lahirannya, semangat terus๐Ÿ™‚

  2. Lagi hunting referensi menghadapi persalinan normal, Alhamdulillah postingannya turut menenangkan saya yg kadang2 masih suka ciut tp tetap punya tekad bulat harus normal hehehe (kecuali alasan medis yg logis yah…), InsyaAllah bulan depan pertempurannya… Trims atas sharing-nya dan salam kenal mbak๐Ÿ™‚

    1. Halo, salam kenal juga mba. Biasanya, kalo anak pertama, banyak kemungkinan yang membuat kondisi operasi (terutama kalo ditangani sama dokter yang tidak pro normal), banyak teman-teman saya mengalami demikian. Karena, anak pertama biasanya lahirnya lebih lama, jadi kemungkinan besar telat dari HPL. Padahal lewat tanggal HPL tidak apa-apa, asalkan bayi masih sehat, HPL kan hanya prediksi. Dokter yang tidak pro normal akan langsung suruh induksi dan operasi, meskipun baru telat 1 hari atau beberapa hari saja. Di situ biasanya akhirnya sang ibu jadi cemas, akhirnya nurut untuk disuruh operasi. Anak pertama saya, baru lahir setelah 2 minggu lewat dari jadwal HPL, dokternya sabar menunggu dan tidak buru-buru (suruh operasi). Karena dokternya pro normal, beliau selalu mengusahakan saya normal, akhirnya diinduksi, masih tetap tidak bisa, di vacuum, baru lahir. Tidak ujug2 menyarankan operasi. Semoga bisa jadi bahan pertimbangan membuat keputusan nanti di saat genting ya mba๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s