Melawan Asap

Pertama kali melihat video ini, mata berkaca-kaca, ikut sedih terhadap apa yang mereka rasakan. Ini sama sekali bukan hal baru. Bahkan memuakkan karena selalu terjadi dan tidak pernah ada kapoknya, at least sampai hari ini. Maybe someday takkan terulang lagi, meskipun ini harapan dari dulu yang masih belum kesampaian tampaknya.

Asap di Riau terjadi sudah lamaaa sekali. Pertama kali terjadi saat saya masih SD aja lho, dan masih kejadian sampai sekarang saya sudah punya anak 2, mungkin sudah sekitar 18 atau 19 tahun. Dan parahnya, it happens every year, seriously. Ketika pertama kali Pekanbaru terkena asap, saya lupa tahun berapa, itu adalah yang paling parah sepanjang yang pernah saya alami selama tinggal di sana. Pagi-pagi ketika akan berangkat sekolah, seperti biasa saya dan anak-anak tetangga lainnya sering keluar saling menyapa, bermain sebentar, menanti orangtua masing-masing keluar untuk kemudian berangkat. Tapi, pagi itu aneh sekali. Begitu keluar rumah, saya tidak bisa lihat apa-apa, semua putih. Untuk berjalan saja saya harus meraba-raba karena takut menabrak, jarak pandang sangat sangat pendek. Kami anak-anak saling memanggil tapi kami tidak bisa melihat satu sama lain, saking pekatnya. Padahal jarak rumah di perumahan kami tidak terlalu jauh. Seperti di negeri dongeng, asap putih misterius yang tebal bagai embun yang sejuk.  Belakangan, kami baru tahu bahwa itu sama sekali bukan embun, melainkan asap yang berbahaya. Setiap hari kami memakai masker di sekolah. Bahkan sering sekali sekolah diliburkan. Semenjak saat itu, bencana asap terus terjadi setiap tahun di kotaku. Setiap tahun! Dan setahun bisa saja terjadi 2 kali. Sekali terjadi pembakaran, asapnya bisa berkepanjangan hingga 2 bulan, bahkan bisa lebih. Bayangkan betapa sesaknya hidup di sana, asap ada di mana-mana, tidak terkecuali dalam rumah sekalipun, no matter what you do, you breathe the smoke.

Data hari ini diambil dari BMKG menunjukkan polusi udara di Pekanbaru mencapai 972 ppm, sedangkan normal hanya 150 ppm saja. Angka 300-500 ppm saja sudah dianggap sebagai level berbahaya, apalagi 900-an Sedih sekali. Saya membayangkan kesehatan seluruh warga Pekanbaru menjadi taruhan karena ulah segelintir orang yang serakah dan tidak bertanggungjawab. Apalagi kesehatan anak-anak dan lansia, mereka sangat rentan. Asap rokok saja bisa menyebabkan pneumonia pada anak, apalagi ini asap dengan level bahaya yang sangat tinggi, terpapar hingga 2-3 bulan lamanya setiap tahun (belum lagi bila terjadi 2 kali setahun), dengan tidak ada satupun tempat untuk bersembunyi dari asap. Ini namanya membunuh perlahan. Sudah berapa banyak warga Riau terkena ISPA dan penyakit lainnya seperti pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Totalnya 25.524 jiwa terjangkit penyakit, dengan jumlah terbesar penyakit ISPA lebih dari 20.000 jiwa (sumber).

Dan leher ini rasa tercekat jika teringat mama dan kakak saya juga masih tinggal di sana, dengan riwayat asma keduanya, ditambah asap begini, tentu lebih menyulitkan. Sedangkan saya di Jakarta baik-baik saja, somehow saya merasa tidak enak, sedih, dan sangat prihatin, bukan hanya pada keluarga saya, tapi juga warga Riau lainnya. Ya mungkin karena saya lahir dan dibesarkan di sana, juga pernah mengalaminya sendiri, tentu saja bencana asap ini sangat “dekat” rasanya. I am extremely sad…and angry.

Di satu sisi, saya juga merasa sangat marah. Kejadian yang berulang setiap tahun ini, dan sudah lama sekali seakan-akan tidak pernah tuntas, menurut saya menunjukkan ketidakseriusan pihak berwenang menegakkan hukum.  Hukum di Indonesia -sorry to say- sangat mudah dibeli. Sehingga mungkin pelaku otak tidak pernah tertangkap, tidak jera, dan tali uang sudah mengakar pada oknum-oknum yang terlibat, sehingga sulit diberantas. Apakah masih kurang ini sudah terjadi hampir 20 tahun dan tidak ada perubahan sama sekali?! Jelas menandakan ketidakpedulian. Kasihan hutan dan lingkungan hidup di sana rusak, kasihan penduduk di sana menderita gara-gara oknum pembakaran hutan, belum lagi mendapat cibiran dari sebagian orang yang sesama bangsa Indonesia sendiri, menganggap ini kesalahan penduduk Riau sendiri (padahal yang penduduk Riau tentu saja tidak menginginkan asap, tapi ulah oknum tertentu), atau menganggap penduduk Riau terlalu manja dan banyak mengeluh. Jika Pemda menyerah, ke mana lagi akan meminta bantuan jika bukan ke pusat? Mereka juga rakyat Indonesia, berhak hidup nyaman dan sehat, no matter siapa yang membakar hutannya, karena sebagian besar dari mereka hanyalah korban, bukan pelaku. Forget the 2 months. Just try a day living here with high level polluted air, and that mouths will be absolutely quiet. Well, yang dibutuhkan saat ini adalah yang benar-benar niat dan serius bisa membongkar dan memberantasnya. Entah masih adakah orang seperti itu sekarang… Kita lihat saja bencana asap ini kapan berakhirnya. Dan apakah tahun depan masih sama lagi ceritanya… Semoga asap cepat pergi dari Riau, dan kota-kota lain di Sumatera dan Kalimantan. Semoga pelakunya juga segera ditangkap dan dihukum yang berat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s