Maklum Jakarta

Alhamdulillah hari ini pertama kali hujan di Jakarta setelah sekian lama tidak pernah hujan, sudah berapa bulan ya..hmm..yang jelas rasanya sudah sangat lama. Bahagia tadi pertama kali menyadari ada suara hujan, seperti tidak percaya, langsung ngintip ke jendela. Malam ini, walaupun tinggal rintik-rintik, bekas-bekas hujan tadi masih terasa. Malam terasa lebih sejuk dan mengintip dari balik jendela indah sekali melihat jalanan depan rumah basah, begitu juga taman dan pohon di depan basah kuyup. Sudah lama sekali.

wpid-img_20151102_232602_wm

Sekarang hampir setengah 12 malam. Anak-anak sudah tidur. Saya masih melihat keluar jendela menikmati sisa hujan sambil menunggu suami belum pulang. Ini sudah cukup malam, karena biasanya dia pulang sekitar jam setengah 11, jika itu masih belum terlalu malam. Hampir setiap hari kerja saya berpikir tentang hal yang sama dan saya benci harus mengakuinya demikian. Sepertinya tinggal di Jakarta lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, dan mau tak mau saya harus bisa memakluminya, walaupun saya tidak suka. Mengapa harus agak dimaklumi, karena ini juga dialami oleh orang lain, para pekerja kebanyakan mereka pulang malam dan berangkat sangat pagi. Untung suamiku tidak harus berangkat pagi-pagi sekali, jadi masih sempat lihat anak-anaknya bangun tidur. Alasan pulang malam macam-macam. Bisa karena pekerjaan belum selesai (atau nanggung), nungguin macet (padahal kalau semua menunggu macet tetap saja jalanan rame terus), kasian sama temen belum pulang (memangnya sama yang di rumah gak kasian, kalau sudah berkeluarga ya), nunggu hujan, dll. Rasanya bisa deh, jam pulang langsung pulang. Macet di jalan (tapi kan tetap jalan) sama menunda pulang demi gak macet, somehow saya tidak terlalu percaya apakah perbedaannya signifikan, sisi egois saya bilang begitu. Mungkin karena lelah setelah bekerja lalu ketemu macet, jadi mungkin agak males kalau langsung pulang.

Ya sudahlah. Mau gak mau pasti seperti itu perjalanan di ibukota. Imbasnya, tidak banyak waktu bertemu keluarga di weekdays. Berangkat pagi kadang sempat ketemu anak kadang tidak, begitu juga pulangnya. Tidak terbayang kalau ayah dan ibu bekerja dua-duanya, anak-anaknya pasti jarang bertemu orangtuanya. Walaupun bisa menelepon, tapi ngobrol dan bercanda dengan tatap muka langsung itu berbeda. Hanya itu yang saya sayangkan di luar mungkin ada imbas yang lain, tapi jelas interaksi anak dan orangtua jadi berkurang. Tiap malam saya mau message tanya pulang jam berapa, bukan karena saya tidak tau dia akan pulang jam berapa, tapi berharap ada jawaban bahwa dia pulang lebih cepat. Tentu anak-anak akan senang sekali kalau ayahnya ternyata pulang lebih cepat. Teringat dulu, di Pekanbaru, papa saya berangkat kantor jam 7 kurang, pulang jam 4 sore. Jam 4 pasti saya sudah siap-siap menyambut papa di teras depan atau pager, begitu lihat mobil beliau nongol langsung nyamperin. Mama juga, jam kerjanya sama seperti jam sekolah kami, berangkat jam 7, pulang jam 2 siang. Jadi selalu ada mama di rumah ketika kami pulang sekolah dan papa pun sore sudah di rumah. Dan tampaknya jam seperti ini mustahil di Jakarta. Nyampe rumah pas maghrib aja sepertinya sudah cepat. Oh..alright. Maklumi sajalah #sigh.  Dan manfaatkan weekend dengan baik dan maksimal bersama keluarga.


One thought on “Maklum Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s