Manajemen Rumah Tangga tanpa ART

Tak terasa sudah 6 tahun menikah, sudah punya 2 anak, belum pernah sekalipun pake jasa ART (asisten rumah tangga a.k.a pembantu). Ada beberapa teman kadang suka bertanya, gimana caranya mengurus rumah dan anak tanpa pembantu. Bahkan setelah melahirkan saja, pulang RS langsung sibuk-sibuk lagi. Suami bantu-bantu sebentar, lalu berangkat kantor. Tinggal saya sendiri mengurus semuanya, dan jahitan masih sakit aja sampe sebulanan (ya Allah, kalo diinget-inget lagi jadi kasian sendiri…curhat… -.-“). Kebetulan mama saya jauh, karena suatu hal maka beliau tidak bisa menemani setelah melahirkan. Jujur saja, habis melahirkan adalah masa terberat (tanpa ART), hanya saya dan suami saling membantu. Yang udah pernah punya bayi pasti mengerti kerepotannya. Sampai Shofi, anak pertama saya, memang tidak pernah terpikir pake ART, karena semua masih tertangani dengan baik. Tapi, ketika hamil Sarah, terutama menjelang lahiran, mulai terpikir apakah bisa ngurus rumah dan anak-anak sendirian, yang satu toddler, yang satu masih bayi. Aduh… Mulai galau. Kemudian saya tanya teman-teman yang sudah duluan punya pengalaman anak dua, hampir semuanya pake ART. Hanya ada 1 orang teman yang tidak pake, dan beliau ini anaknya 5 aja lho, all by herself. Udah gitu usia anaknya dekat-dekat. Hebat…ckckck… Padahal saya tau dia itu mampu bayar ART. Ketika saya tanya, apa rahasianya bisa mengurus semuanya sendiri? Beliau jawabnya santai sekali, kuncinya cuma ikhlas katanya. MasyaAllah, hebat sekali. Dan kelihatan sih, beliau pembawaannya tenang dan santai, mungkin karakter orang juga mempengaruhi kali ya.. Ada yang tetap tenang tanpa pembantu, ada juga yang baru tenang setelah yakin dirinya tidak sendiri, ada yang membantu..

Saya pun sebenarnya tipe kedua, baru tenang setelah yakin ada yang siap membantu. Tapi, bantuan tidak selalu dalam bentuk ART. Saya pribadi lebih nyaman mengandalkan kerjasama kami (suami istri), begitu juga suami mendukung hal ini. Entah berapa kali saya menodong janjinya sebelum lahiran anak kedua bahwa dia benar-benar siap membantu nantinya.

Sebenarnya pake ART atau tidak, terserah masing-masing kita, pasti punya alasan tersendiri. Setelah pernah tarik ulur berpikir untuk pake ART, terutama setelah melahirkan anak kedua, akhirnya saya putuskan tetap tanpa ART. Beberapa pertimbangan saya; pertama karena saya terlalu perfeksionis. Syukur-syukur dapat ART pinter, cepet nangkep, rapi, pinter masak, which is jaman sekarang ART jenis begini udah susah ketemunya. Banyak maunya sih ya hehe.. tapi serius, kalo gak, orang perfeksionis pasti gondok sendiri kalo ngeliat kerjaan gak beres atau tidak seperti yang diharapkan. Payahnya, selain perfeksionis, saya orangnya gak enakan. Gak bisa kapitalis -_- Jadi, kalo mau negur kerjaan ART atau mau nyuruh ini itu, takut gak enak, padahal dalam hati masih gak sreg. Misal, dalam hal bersih-bersih, bisa keliatan kerjanya orang yang pandai bersih-bersih sama yang enggak. Mana katanya ART sekarang suka ngambekan dan ngelunjak, kalo dikasi tau nanti tiba-tiba minta berhenti…hufff…(cerita temen-temen dan liat ART nya mamer yang entah sudah berapa kali gonta ganti). Nah, saya males kalo kejadian seperti ini. Mendingan saya deh yang ngerjain, biar repot sedikit tapi puas.

Pertimbangan kedua, karena saya terlalu sayang untuk ngelepas urusan anak-anak dan suami ke orang lain. Saya senang melayani mereka dengan tenaga, pikiran, dan tangan saya sendiri. Terutama anak-anak, kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bisa mengurus sendiri anak-anak. Mereka juga pasti senang diurusi sama bundanya langsung. Dua hal ini bikin saya selalu mengurungkan niat pake ART dan boost semangat lagi di kala capek (selain cemilan-cemilan manis kesukaanku hehe)..

Ok, setelah cerita pembuka yang panjang😀 Menurut saya hal terpenting dalam rumah adalah urusan makan, pakaian, dan kebersihan dan kerapihan. Untuk membereskan 3 hal tersebut, berikut ini cara mengatur rumah tangga tanpa asisten yang saya terapkan di rumah :

1. Kerjasama dengan suami dan supportnya. Ini penting sekali, secara psikis sangat melegakan beban pikiran dan hati. Kalo hati senang, kerjaan juga terasa ringan. Support, perhatian, dan bantuan sekecil apapun darinya sangat menyemangati dan saya hargai, betapa tidak, karena itu artinya meringankan sedikit kerjaan saya. Biasanya suami bantu-bantu menjelang berangkat kantor. Saya siapin sarapan, dia jaga anak-anak. Kalo lagi gak kecapean, kadang dia juga mandiin anak-anak selagi saya di dapur. Atau sebaliknya, dia siapin sarapan, saya beresin anak-anak. Kalo weekend, biasanya dia bantu cuci pakaian. Yaah intinya fleksibel aja, suami ikut membantu meringankan pekerjaan di rumah sebisanya, karena dia juga harus bekerja keluar rumah kan, jadi saya gak maksa harus ini itu. Nunggu kesadaran sendiri membantu :p Sebenarnya hal-hal sederhana seperti meletakkan piring kotor ke tempat cuci piring atau cuci piring sendiri juga sudah sangat membantu. Saling mengerti dan membantu aja intinya.

2. Mengajarkan anak mandiri. Saya pernah baca tips singkat mengurus rumah tangga tanpa ART (lupa baca di mana), begini : suami istri saling bantu, anak diajarkan mandiri terhadap diri sendiri, anak yang lebih besar diajarkan mengayomi/membantu anak yang lebih kecil, doa minta kemudahan sama Allah. Wuih, mantep ni, kalo paham tips ini dan dipraktekkan dengan baik, kayanya gak ada yang sulit. Semua ada di situ intinya. Khusus tentang anak, dengan mengajarkan mereka mandiri ada 2 poin penting yang didapat. Pertama, kita lebih terbantu. Mereka bisa mengerjakan hal-hal kecil sendiri, tidak harus selalu tergantung bantuan kita, sehingga kita bisa mengerjakan hal lain. Dua, sangat baik untuk mereka ketika sudah besar kelak. Ajarkan mereka kemandirian yang sederhana (tapi sebenarnya penting) sesuai umurnya, seperti merapikan mainannya sendiri setelah bermain, mandi sendiri, cebok sendiri (kalo sudah bisa toilet training), pake baju sendiri, suap sendiri, pakai sepatu sendiri, dll. Jadi kalo anak sudah 2 atau 3 tahun, jangan melulu dibantu, tapi biarkan mereka belajar, kita tetap mengawasi. Justru mereka excited lho supaya bisa sendiri. Anak yang selalu dilayani segalanya cenderung tumbuh jadi anak yang manja dan malas. Dan biarkan mereka berpikir solutif kalo menemukan masalah, tidak usah buru-buru dibantu. Misalnya, jika air minumnya tidak sengaja tumpah, ajarkan cara membereskannya, dia harus ambil kain untuk lap. Atau perlu nyalakan lampu tapi tidak nyampe, bisa pake kursi naik dulu. Kalo Shofi biasanya pake gagang sapu mainannya buat tekan saklar haha.. Dan satu lagi, si kakak dan adek diajarkan akur dan saling tolong. Jadi, waktu kita harus meninggalkan mereka sebentar, kakak bisa membantu dan bertanggungjawab menjaga adeknya, dan kita bisa mengerjakan pekerjaan lain. Alhamdulillah buat saya ini sangat membantu dan menyenangkan melihat anak-anak bisa tumbuh mandiri. Dan saya sangat berterimakasih sama Shofi, karena sebenarnya pengertian dan bantuannya sudah memudahkan pekerjaan saya sehari-hari, walaupun hanya sebatas yang mampu dilakukan anak 4 tahun. It’s a very sweet of her.

3. Berhubung gak ada yang bantuin, saya gak ngotot rumah harus selalu disapu setiap hari. Biasanya 2 atau 3 hari sekali (whaaat?! Iya! Emang kenapa..haha) Kalo udah mulai kotor ya sapu dan pel, lap sana sini. As simple as that. Toh rumah gak kotor tiap hari. Ini cara berdamai dengan diri sendiri, supaya saya gak kecapean juga. Yang penting rumah rapi, enak diliat. Anak-anak sudah saya ajarkan merapikan mainannya sendiri, jadi rumah gak pernah kayak kapal pecah (karena biasanya pemandangan berantakan terlihat waktu anak-anak lagi main). Dan anak-anak kalo lihat orangtuanya suka rapi-rapi, mereka sebenarnya ikut mencontoh. Taro baju pada tempatnya, taro sepatu di tempatnya, mengembalikan barang yang diambil, taro piring kotor ke belakang, dsb. Kalopun ada hal-hal kecil yang mereka terlupa, itu hanya sesekali dan tidak banyak, maklum namanya juga anak-anak, tapi sudah sangat meringankan pekerjaan saya dengan terbiasa disiplin untuk rapi ini. Kalo semua penghuni rumah bertanggung jawab rapi, rumahnya pasti rapi. Karena saya setuju; tidy room, tidy mind. So, diusahakan rumahnya gak berantakan.

4. Jemur baju yang rapi. Kok jemur baju? Iya, karena kalo baju ketika dijemur dirapikan (gak asal taro doang), pas keringnya juga rapi. Saya kalo jemur baju pasti sedikit lebih lama dari suami (karena saya lebih rapi dari dia haha), menggantungnya simetri, pinggiran baju ditarik kiri kanan supaya tegang meminimilisir bekas kerutan. Kemeja dan jilbab, sebaiknya dengan hanger. Baju yang jemurnya rapi, setelah kering pun langsung dilipat yang rapi, gak keliatan kusut lho pas dipake. Kalopun belum sempat langsung melipat, baju kering ditumpuk seperti tumpukan kertas, taro di suatu tempat, jangan dikremek (aduh apa ya bahasanya, pokoknya jangan sampai ditumpuk dalam keadaan kelipat-lipat atau kusut). Dengan begini, baju keringnya tetap rapi sampai sesi melipat. Believe or not, karena ini saya jadi jarang sekali nyetrika. Kalopun harus nyetrika, untuk pakaian yang bahannya tertentu saja, yang memang hanya bisa rapi dengan disetrika. Bahkan, kebanyakan pakaian pergi kita juga tanpa setrika (tapi gak keliatan kusut). Sedangkan semua pakaian rumahan, semuaaanya hanya dilipat saja yang rapi, dan sama sekali gak kusut. Ini karena kebanyakan bahannya kaos dan katun yang mudah rapi, apalagi jenis bahan ini makin ditumpuk (dalam kondisi terlipat), makin rapi. Gak percaya, coba aja😀 So, dari sini ibu rumah tangga seperti saya sudah save banyak waktu untuk tidak menyetrika dan bisa digunakan untuk yang lain. Karena, nyetrika itu takes time sodara-sodara😀 Oiya, kelebihannya lagi, kegiatan melipat baju bisa dilakukan bersama anak-anak (gak harus nunggu anak tidur), bahkan mereka bisa meniru kita melipat pakaian, sekalian belajar.

5. Manfaatkan home appliances sesuai kebutuhan. Tenaga dan waktu kita bisa lebih efektif dengan menggunakan alat-alat elektronik rumah tangga, sayang tidak dimanfaatkan. Yang paling penting menurut saya sih adalah mesin cuci. Kalo ada rezeki lebih atau bisa dengan nabung, beli mesin cuci yang bagus sekalian, biar memudahkan pekerjaan dan juga awet…front load😀 #big grin. Karena cuci pakaian konvensional lumayan menguras energi dan lama, jadi kalo ada mesin cuci sooo much easier; masukin, ditinggal (bisa nyambi pekerjaan lain atau main sama anak-anak), selese tinggal jemur. Walaupun dalam prakteknya, masih ada beberapa pakaian yang harus rendam dan sikat dulu, tapi gak banyak. Satu lagi yang penting buat saya adalah kulkas. Karena saya suka nyetok masakan dalam jumlah banyak, jadi masakan tetap bagus biarpun sudah berhari-hari. Berkaitan sama urusan dapur sih, nanti di point berikutnya. Elektronik rumah tangga lainnya sudah umum ya, seperti rice cooker, kayanya ini alat wajib di setiap rumah.

6. Urusan masak memasak. Ini urusan paling panjang dan perlu perhatian ekstra untuk keluarga kecil saya. Mulai dari hal yang terlihat sepele, padahal tidak.. justru memudahkan, semuanya harus diatur dengan baik. Saya biasanya masak banyak dalam 1 hari untuk seminggu, stok masakan disimpan di kulkas. Biasanya pas weekend, kalo gak sabtu ya minggu, fleksibel aja. Karena pas ayah anak-anak ada di rumah, saya bisa masak tanpa diganggu, anak-anak sama ayahnya dulu. Kayanya ribet ya, tapi setelah dijalanin sih gak juga. Pertimbangan saya justru supaya gak ribet masak setiap hari, tanpa ada yang bantuin justru masak memasak setiap hari itu sangat berat rasanya. Gak tega waktu habis untuk lama di dapur sedangkan anak-anak pengen ditemenin bundanya, apalagi kalo sampe nangis kejer, sedangkan masakan gak bisa ditinggal juga, rasanya jadi gak maksimal dua-duanya, either as a chef or a mother. Benar-benar gak tega. Biarin deh capek masak 1 hari, tapi hari-hari berikutnya mudah.

Jadi, hari memasak saya bikin beberapa masakan (lauk) dan sayur. Misal 5 atau 6 jenis lauk, nanti tiap masakan dibagi di kotak-kotak per porsi untuk sekali makan kita, masukin kulkas. Tahan lama lho makanannya, jadi gak usah khawatir rusak. Tiap makan keluarin 1 kotak, digilir aja menunya supaya gak bosan. Jadi, hari-hari berikutnya tinggal manasin masakan-masakan itu, rasanya tidak berubah, tetap masih baik, dan yang pasti cuma perlu waktu sebentar doang. Saya gak perlu ninggalin anak lama-lama waktu menyiapkan makan mereka. Kadang ada juga yang goreng-goreng, tapi juga gak lama, seperti ayam udah diungkep tinggal goreng sebentar.

Gak semua stok masakan sudah dalam kondisi matang, ada juga yang mentah, tapi sudah siap eksekusi. Seperti kadang saya nyiapin ikan/ayam fillet cukup banyak masukin freezer, 1 kotak misalnya, udah ditepungin dan tinggal goreng. Atau bisa juga ikan/ayam tapi sudah dibalurin bumbu untuk siap panggang. Ambil secukupnya untuk sekali makan. Semua stok masakan mentah harus disimpan di freezer. Kecuali seperti di atas yang disimpan dalam kondisi sudah masak, taro di refrigerator aja.

Urusan dapur terasa lebih mudah dan cepat jika bahan-bahan masakan sebelumnya sudah diatur. Ini beberapa tips dapur yang saya terapkan :
– Siapkan bumbu dasar seperti bawang putih, bawang merah, jahe, lengkuas, kunyit, dalam keadaan halus. Sudah diblender atau diulek. Boleh disatuin (kalo blender sih enakan disatuin semua), tapi boleh juga dipisah satu-satu. Saya prefer disatuin, lebih praktis, karena bumbu masakan nusantara rata-rata hampir selalu pake bumbu ini, makin enak malah kalo pake semuanya. Tinggal atur proporsi masing-masing bumbu. Kalo udah sering masak pasti paham takarannya. Tapi kalo dipisah, kelebihannya adalah lebih mudah meracik bumbu, bisa custom kalo misalnya hanya butuh ini dan tidak butuh itu. No big problem tapi lah. Sukanya yang mana. Yang penting, simpan bumbu dalam keadaan halus, siap masak. Taro di freezer. Beberapa jam sebelum masak, keluarkan. Tinggal sendokin seperlunya ke dalam masakan, gampang dan cepat. Jadi, ketika mau masak gak repot-repot lagi ngupas bawang banyak-banyak, ngulek, dsb. It takes time, really.

– Simpan bahan makanan mentah yang belum dimasak dalam keadaan bersih. Kadang-kadang kan kita beli gak untuk langsung dimasak. Setiap pulang belanja, jangan langsung simpan begitu saja. Tapi dibersihkan dulu, terutama udang, ayam, ikan. Kalo daging jangan dicuci, tidak apa-apa langsung disimpan. Walaupun hari gini beli ayam atau ikan udah dipotongin dan dibersihin, tapi kadang mereka bersihinnya seadanya saja, kita harus cek lagi di rumah, bersihkan yang masih kotor, baru disimpan. Pas mau masak, gak repot bersihin lagi.

– Simpan daun-daunan pelengkap seperti daun salam, daun jeruk, sere, dll di freezer. Oiya, bahkan daun sop pun saya simpan di freezer. Simpan masing-masing dalam plastik bening. Daun-daunan ini kan dipakenya hanya sedikit-sedikit, padahal dibelinya dalam jumlah banyak (seringnya kan dijual sekantong-kantong gitu), tapi mereka semua tetap awet meskipun itungan bulan baru abis. Beda sama kalo cuma taro di luar, lama kelamaan kering. Atau kalo hanya taro di refrigerator, memang bisa tahan, tapi gak lama.

– Supaya gak repot tiap hari beli sayur, mending nyimpen sayur. Apalagi orang seperti saya, malas keluar sering-sering, haha.. Paling belanja sekali seminggu, jadi sayur harus disimpen. Cuma masalahnya sayur suka gak tahan lama meski masuk kulkas, tetep aja layu atau rusak (karena berair). Cara menyimpan sayuran supaya awet, saya dapat dari mamer. Siapin kotak gede, lapis dengan koran kotaknya, jgn tipis-tipis banget ya.. Sayuran masing-masing dibungkus lagi sama koran yang rapi, susun mereka semua dalam kotak yang sudah dilapisi koran tadi. Sebelum kotak ditutup, atasnya tutup koran juga, jadi semua ketutup. Alhamdulillah bisa nyimpen sayur dan tetap seger. Kalo sayur daun-daunan seperti kangkung dan bayam, simpan dalam keadaan sudah dipotong-potong siap masak, jangan ditekan tapi ya pas nyimpennya.

– Simpan jahe, kunyit, lengkuas utuh lebih awet pake plastic wrap, masukin kotak sayur.

– Punya rendang atau gule kambing atau gule ayam, trus bumbunya nyisa? Jangan dibuang. Dibuang sayang haha.. Simpan aja sisa bumbu-bumbu seperti itu masukin kotak-kotak atau plastik kecil, simpan di freezer (kalo gak langsung mau dipake). Bisa juga simpan di refrigerator tapi panasin dulu sebelum simpan, dan segera dipake (gak setahan kalo taro di freezer). Bumbu ini bisa digunakan lagi untuk masakan lain super praktis. Kalo sisa kuah gule mah cemplungin lagi aja ayam (bisa dada ayam potong dadu-dadu kecil atau juga ayam potong sesuai selera dan jumlah kuahnya), jadi deh masakan baru. Kalo kurang bisa tambah air dan garam udah enak lagi. Bumbu rendang, bisa buat bikin mie goreng sarapan pagi, tinggal nambahin isi mie nya. Enak kan, bikin mie gak usah capek-capek mikir bumbu lagi, bumbu rendang itu udah maknyus wkwkwk.. Mungkin ada ide lain, let me know yaa..

Oke, sekian share nya. Semoga bermanfaat dan terus semangat buat ibu-ibu yang super sibuk🙂


2 thoughts on “Manajemen Rumah Tangga tanpa ART

  1. Assalamualaikum rin…beneran udh hbis bc ni,ngulik2 postingan lama smpai ktmu commentnya tata.haha.kepo jg yah,,rasanya sperti familiar dan make sure n taaadaa,bener trnyata..iy bnyak yg bisa handle lgsg scara resources untuk ART yg klop ma kita trbatas jumlah dan kita terbatas biaya jg (upah setara UMR).semoga semangat ibu profesionalny nular…aamiin😀

    1. Wa’alaykumsalam. Ini Rhia smandel yaa? Wah, apakabar? Email ke aq ya nomor Rhia, dah lama gak contact nih qt. Kok bs nyasar ke sini, Ya? Haha.. Semoga qt bs jd ibu2 yg pinter mengurus rumah tangga, walaupun dengan bantuan minim, semangat😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s