Di Balik Langit

​Sengaja saya membuka jendela kamar, bersembunyi di baliknya, sambil melihat keluar. Udara sore ini sangat sejuk dan bersahabat, sampai-sampai air mata menetes. Rasanya pas sekali, suasana hati disambut dengan hujan. Menengadah sedikit, saya melihat langit berwarna biru keabuan, terlihat pucat. Yet, it’s so beautiful. Bagian yang selalu mampu menahan waktuku dan membawaku ke waktu lain. Beberapa saat saya hanya ingin memandang dan menikmati rintik hujan jatuh dari langit.

Hingga akhirnya, saya mendengar langkah kaki menaiki tangga. Saya seka air mata. Dan si sulung ternyata mencari bundanya. “Bunda kenapa??” tanyanya melihatku. “Gpp, lagi pilek.” Kemudian dia pergi dan segera kembali membawa 3 lembar tisu, “Ini buat lap ingus bunda.” ….. Bukan hanya pemandangan di luar yang menyejukkan, tetapi juga di depan mata. Thank you, my dear…

Advertisements

3 thoughts on “Di Balik Langit

    1. Makasi tatss.. :’* iya nih, blm pernah liat Zhaf lg, tampaknya sudah besar ya, idungnya mirip bundanya 😀 Miss u too ta, aturlah..kapan2 qt bersua yak

      1. Hahaha.. dari sekian banyak fitur di muka, entah kenapa dia memilih hidungnya yang mirip ke bundanya.. 😓

        Siap.. jangan kapan-kapan, segera.. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s